Berita Hawzah – Dengan memohon kepada Allah Swt agar menerima segala amal ibadah kaum muslimin, menyajikan penjelasan mengenai doa hari keduapuluh lima bulan suci Ramadhan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hasan Zamani. Berikut adalah doa hari keduapuluh lima bulan Ramadan beserta artinya:
«اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي فِيهِ مُحِبّاً لِأَوْلِيَائِكَ وَ مُعَادِياً لِأَعْدَائِكَ وَ مُسْتَنّاً بِسُنَّةِ خَاتَمِ أَنْبِيَائِكَ يَا عَاصِمَ قُلُوبِ النَّبِيِّينَ»
"Ya Allah, jadikanlah aku di bulan ini mencintai para wali-Mu dan memusuhi musuh-musuh-Mu, serta mengikuti sunnah penutup para nabi-Mu, wahai Pengatur hati para nabi. Wahai Penjaga hati para nabi."
Pada hari ini, seorang hamba yang berpuasa menyampaikan tiga permohonan kepada Allah Swt. Dalam bagian pertama doa ini disebutkan: «اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي فِيهِ مُحِبّاً لِأَوْلِيَائِكَ», "Ya Allah, jadikanlah aku di bulan ini mencintai para wali-Mu." Dalam penggalan pertama doa ini, ada beberapa poin yang perlu diperhatikan;
1. Pentingnya Cinta dalam Ajaran Agama
Poin pertama, doa ini mengandung dua prinsip utama dan fundamental: Tawalli, dan Tabarri. Tawalli adalah mencintai dan mendekatkan diri kepada Allah, Rasul, dan para wali-Nya, sedangkan Tabarri adalah membenci dan memusuhi serta berlepas diri dari musuh-musuh mereka. Poin kedua, cinta memegang peranan penting dalam agama. Cinta adalah urusan hati, sementara fikih mencakup kewajiban-kewajiban yang dilakukan seluruh anggota tubuh. Namun, cinta memiliki kedudukan yang sangat penting karena ia menjadi ruh dari seluruh amalan fikih. Bahkan, bisa dikatakan bahwa esensi dari agama adalah kecintaan yang bersemayam di dalam hati setiap hamba. Karena hal ini diperkuat oleh sebuah riwayat yang menyatakan, «هل الدین الا الحب» "Apakah agama itu selain cinta?"
2. Cinta kepada Allah adalah Salah Satu Ciri Orang yang Beriman
Poin ketiga, Al-Quran Karim menyebutkan bahwa salah satu ciri penting orang beriman adalah kecintaan yang mendalam kepada Allah. Kecintaan seperti ini dapat kita sebut sebagai cinta sejati (عشق). Dalam ayat 165 surat Al-Baqarah disebutkan: «وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ», "Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu seluruhnya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya." (QS. Al-Baqarah: 165).
3. Peran Cinta kepada Allah dan Para Nabi dalam Kebahagiaan Manusia
Poin keempat adalah mengapa Allah dalam Al-Qur'an-Nya dan Nabi Muhammad Saw dalam riwayat-riwayatnya sangat menekankan pentingnya cinta? Apa sebenarnya peran cinta kepada Allah dan para nabi dalam meraih kebahagiaan manusia? Jawabannya adalah, kecintaan yang bersemi di dalam hati ibarat mata air yang memancarkan kepatuhan dan ketaatan seorang hamba kepada Allah dan ajaran para nabi. Seseorang, ketika mencintai Allah Swt, akan melaksanakan seluruh perintah-Nya. Allah Swt dalam surat Ali Imran ayat 31 berfirman: «قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ», "Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Poin selanjutnya adalah, semua manusia adalah wali, namun wali itu terbagi menjadi dua golongan: wali Allah dan wali setan. Allah Swt telah memberikan penilaian terhadap kedua kelompok tersebut. Mengenai wali-wali Allah, Allah Swt berfirman dalam surat Yunus ayat 62 hingga 64: ««أَلا إِنَّ أَوْلِياءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَ لا هُمْ يَحْزَنُونَ * الَّذينَ آمَنُوا وَ کانُوا يَتَّقُونَ * لَهُمُ الْبُشْري فِي الْحَياةِ الدُّنْيا وَ فِي الْآخِرَةِ لا تَبْديلَ لِکَلِماتِ اللَّهِ ذلِکَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظيمُ», "Ingatlah, wali-wali Allah tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung." Adapun wali-wali setan adalah mereka yang menerima kepemimpinan setan, sehingga setan mengendalikan diri mereka dan menyeret mereka ke neraka.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa terkadang Al-Qur'an menggunakan istilah "wilayah" untuk cinta, dan memerintahkan orang-orang beriman untuk memiliki wilayah dan menerima kepemimpinan dari wali-wali Allah. Pada dasarnya, wilayah adalah bentuk cinta yang sangat mendalam. Dalam kategori pertama, wilayah terjalin di antara sesama orang beriman. Dalam kategori kedua, wilayah lebih ditekankan kepada kelompok-kelompok yang berkorban dan berjihad di jalan Allah. Adapun dalam kategori ketiga, wilayah yang sempurna ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW dan para Imam Maksum 'alaihimussalam.
Allah Swt mengenai kategori pertama dalam surat At-Taubah ayat 71 berfirman: «وَ الْمُؤْمِنُونَ وَ الْمُؤْمِناتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِياءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْکَرِ وَ يُقيمُونَ الصَّلاةَ وَ يُؤْتُونَ الزَّکاةَ وَ يُطيعُونَ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ أُولئِکَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزيزٌ حَکيمٌ», "Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." Kemudian, mengenai kategori kedua, Ia juga berfirman dalam surat Al-Hasyr ayat 9: «وَ الَّذينَ تَبَوَّؤُا الدَّارَ وَ الْإيمانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هاجَرَ إِلَيْهِمْ وَ لا يَجِدُونَ في صُدُورِهِمْ حاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَ يُؤْثِرُونَ عَلي أَنْفُسِهِمْ وَ لَوْ کانَ بِهِمْ خَصاصَةٌ وَ مَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولئِکَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ», "Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Pada bagian kedua dari doa ini, kita membaca: « وَ مُعَادِياً لِأَعْدَائِكَ», "Dan memusuhi musuh-musuh-Mu."
4. Apakah Al-Qur'an Memiliki Ayat tentang Memusuhi Musuh-Musuh Agama Allah?
Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam doa ini; pertama, kita harus memusuhi musuh-musuh agama dan Allah. Apakah Al-Qur'an memiliki ayat-ayat tentang kewajiban memusuhi ini?
Al-Qur'an memiliki beberapa kategori ayat yang berhubungan dengan hal ini. Antara lain, ayat-ayat yang menggunakan kata bara'ah (menjauhkan diri), ayat-ayat yang memerintahkan kufur kepada thaghut (menolak segala bentuk penyembahan selain Allah dan segala bentuk kezaliman), dan ayat-ayat yang menegaskan bahwa tidak boleh ada cinta atau loyalitas kepada musuh-musuh Allah. Bagi yang ingin mendalami, ayat-ayat tersebut dapat dicari dan dipelajari dalam Al-Qur'an.
Kedua, terkait pentingnya menolak dan mengingkari, serta memusuhi thaghut, dua ayat berikut ini perlu diperhatikan:
1. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 256 disebutkan: «لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ», "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
2. Dalam Surah An-Nisa ayat 60 kita membaca: «أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا», "Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak meminta keputusan hukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya."
5. Ayat-Ayat yang Berbicara secara jelas tentang tabarri (berlepas diri)
Dalam Surah At-Taubah ayat 1–2 disebutkan: «بَراءَةٌ مِنَ اللَّهِ وَ رَسُولِهِ إِلَي الَّذينَ عاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِکينَ * فَسيحُوا فِي الْأَرْضِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَ اعْلَمُوا أَنَّکُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ وَ أَنَّ اللَّهَ مُخْزِي الْکافِرينَ», “(Ini adalah) pernyataan berlepas diri dari Allah dan Rasul-Nya kepada orang-orang musyrik yang telah kalian buat perjanjian dengan mereka. Maka berjalanlah kalian (dengan bebas) di bumi selama empat bulan, dan ketahuilah bahwa kalian tidak akan dapat melemahkan (menggagalkan kehendak) Allah, dan bahwa Allah akan menghinakan orang-orang kafir.”
Dalam Surah Al-An‘ām ayat 19 kita membaca: «قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً قُلِ اللَّهُ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَىٰ قُلْ لَا أَشْهَدُ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ», “Katakanlah: ""Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?"" Katakanlah: ""Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Qur'an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al Qur'an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?"" Katakanlah: ""Aku tidak mengakui"". Katakanlah: ""Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)."
Pada bagian ketiga doa ini, kita membaca: «وَ مُسْتَنّاً بِسُنَّةِ خَاتَمِ أَنْبِيَائِكَ», “Dan mengikuti sunnah penutup para nabi-Mu.” Dua poin penting dapat diperhatikan dalam bagian doa ini. Poin pertama, doa ini menggunakan kata “istinan” (مستناً), sementara Al-Qur’an dalam tema yang sama menggunakan beberapa ungkapan lain, seperti kata-kata "ta’assi" dan "uswah" (keteladanan), serta "ittiba‘" dan "taba‘iyyat" (mengikuti). Allah Swt dalam Surah Al-Ahzab ayat 21,berfirman: «لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا», “Sungguh, pada diri Rasulullah ada suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan) pada Hari Akhir, serta banyak mengingat Allah.” Kemudian, Ia Swt juga dalam Surah Al-A‘rāf ayat 157 berfirman: «الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ», “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Demikian pula dalam Surah An-Nisa' ayat 80 disebutkan: «مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا», “Barang siapa menaati Rasul, sungguh ia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling, maka Kami tidak mengutusmu sebagai penjaga atas mereka (engkau tidak bertanggung jawab terhadap mereka).”
Kesimpulan dari pembahasan sunnah Nabi yang terakhir adalah bahwa kita, sebagai kaum muslimin, sebagaimana diwajibkan menjadikan beliau sebagai teladan, maka setelah beliau kita juga berkewajiban mengikuti dan meneladani praktik kehidupan Ahlulbait ‘alaihimussalam.
6. Mengapa para nabi Allah tidak meminta imbalan dari Allah?
Para nabi Allah tidak seorang pun yang meminta imbalan dari Allah, karena "ajr" (upah/imbalan) selalu merupakan balasan yang sepadan dengan amal baik seseorang. Oleh sebab itu, upah atau imbalan harus sebanding dengan perbuatan seseorang. Namun, dakwah para nabi Allah memiliki nilai yang sangat tinggi, dan tidak ada imbalan duniawi yang dapat menyamai dengan apa yang telah mereka lakukan. Karena itulah mereka tidak meminta balasan duniawi, dan hanya memohon pahala dari Allah Yang Maha Benar.
Allah Swt dalam Surah Asy-Syura ayat 23 berfirman: «ذَٰلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ», “Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Katakanlah: ""Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan"". Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri."
Pertanyaannya adalah, mengapa nabi-nabi lain yang jasanya biasa saja tidak meminta imbalan duniawi, sementara Nabi Muhammad Saw meminta imbalan duniawi? Jawaban untuk masalah ini terdapat dalam ayat 47 Surah Saba: «قُلْ مَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ», “Katakanlah: ""Upah apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."
Pertanyaan selanjutnya, manfaat apa yang didapatkan umat Muslim dari kecintaan kepada kerabat dekat Nabi Muhammad Saw (Ahlulbait)? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu merujuk pada ayat 57 Surah Al-Furqan: «قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلَّا مَنْ شَاءَ أَنْ يَتَّخِذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا», “Katakanlah: ""Aku tidak meminta upah sedikit pun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.” Artinya, kecintaan kepada kerabat dekat Nabi Muhammad Saw (Ahlulbait) merupakan jalan yang akan mengantar manusia kepada Allah.
Komentar Anda